6 Bukti Sejarah Kalau ‘Cantik’ Itu Cuma Soal Konsep. Gempal dan Berkumis Tebal Pernah Jadi Primadona

Diposting pada

6 Bukti Sejarah Kalau ‘Cantik’ Itu Cuma Soal Konsep. Gempal dan Berkumis Tebal Pernah Jadi Primadona

Perempuan idaman

Coba bayangkan kalau definisi ‘cantik’ yang selama ini kamu pahami hanyalah sebuah konsep dari apa yang kamu lihat di media. Ketika melihat seorang perempuan dengan perawakan kutilang darat (kurus tinggi langsung dada rata), kebanyakan orang akan terkesima dan menganggap sang perempuan bak model yang biasa jalan-jalan di catwalk. Nyatanya masyarakat pada dimensi berbeda pernah menganggap sebaliknya, dengan warna kulit, postur badan, dan standar kecantikan lain yang begitu berbeda.

Ada begitu banyak bukti sejarah yang bisa dijadikan alasan kalau cantik memang soal konsep masyarakat, anggapan yang nggak baku, dan bisa berubah suatu waktu. Bahkan suatu detil aksesori dan kenampakan bentuk tubuh tertentu bisa benar-benar sangat aneh bagi kita yang hidup di era millennial. Melansir dari Daily Pakistan dan Ranker, standari kecantikan itu ternyata memang yang sangat berbeda-beda. Coba lihat uraian Hipwee News & Feature berikut yang hampir dipastikan bikin kamu nggak nyangka!

Semakin kecil telapak kaki, seorang gadis dianggap makin cantik. Meski menyiksa, tapi ribuan gadis Cina dulu rela membebat kakinya

Bentuk telapak kaki setelah bertahun-tahun dibebat, tulang melengkung dan membentuk sepatu mini via dailymail.co.uk

Pada abad ke-13 di Cina, ukuran kaki jadi hal yang sangat penting untuk menunjang penampilan perempuan. Anak gadis yang berusia 5-7 tahun kakinya mulai dibebat dengan kain dengan sangat kencang dan dipaksa mengenakan sepatu berukuran sangat mini. Bukan hanya sehari dua hari, kaki mereka bahkan dibebat hingga mereka dewasa dan menghasilkan bentuk kaki yang teramat kecil. Tentu saja ini menghambat pertumbuhan tulang telapak kaki dan membuat bentuk telapak kaki mereka bengkok. Meskipun menyakitkan dan sangat menyiksa, ribuan perempuan Cina zaman dulu benar-benar mengalaminya lho!

Berbeda dengan Dinasti Han, perempuan Yunani yang menggunakan alis menyatu sebagai standar cantik dan intelegensi tinggi

Justru dianggap seksi dan menarik via www.hooch.net

Advertisement

Lain ladang lain belalang. Perempuan di zaman Yunani kuno sering menggambar alis menggunakan Kohl pigmen dan menyatukan alis mereka. Katanya hal ini dimaksudkan agar perempuan lebih kelihatan pintar dan cantik secara alami. Kalau perempuan Yunani hidup di tahun 2018, mungkin alis mereka bakal dicukur biar melengkung cetar kali ya!

Ribet dandan dan melengkungkan bulu mata? Well, gadis tanpa bulu mata justru jadi standar cantik di zaman Renaissance

Perempuan tanpa bulu mata via www.hipwee.com

Bagi perempuan Eropa yang hidup di zaman Renaissance atau abad pertengahan, bukan hanya jidat lebar saja yang dikagumi kala itu. Bulu mata digambarkan sebagai elemen wajah yang agak mengganggu dan mengarah ke overseksual. Sehingga banyak perempuan yang memilih mencukur habis bulu mata mereka untuk mendapat penampilan yang fresh. Duh pada hal di 2018, punya bulu mata lentik dan tebal jadi anugrah banget ya guys.

Tahi lalat juga pernah jadi ikon perempuan berkelas di abad 18. Jarang banget ditemui perempuan yang wajahnya polosan

Penggambaran perempuan abad 18 dalam film via thoughtcatalog.com

Advertisement

Kalau sekarang banyak perempuann yang operasi plastik dan memilih mengangkat tahi lalat di wajahnya, perempuan barat justru bela-belain pakai tahi lalat palsu di abad 18. Katanya sih tahi lalat ini bikin perempuan makin cantik dan terkesan berkelas. Perempuan ketika itu sering mengenakan makeup tebal dan menempelkan asesoris tahi lalat dengan jumlah dan ukuran yang bervariasi.

Fat Camp Mauritania. Perempuan dikarantina dalam satu kawasan dan diberi makan kaya lemak

Tubuh gemuk perempuan Mauritania via thoughtcatalog.com

Pada masa lalu di kawasan Mauritania, Afrika, perempuan yang potensial untuk dinikahi adalah perempuan yang gemuk. Oleh karenanya, mereka yang bertubuh kurus kemudian dikarantina dalam satu kawasan dan mengonsumsi makanan berlemak setiap hari agar tubuhnya menggemuk. Namun untungnya budaya ini sudah dihilangkan. Pastinya nggak sehat dong jadi gemuk dan memakan makanan yang beresiko menimbulkan obesitas dan penyakit serius lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *