[REVIEW] Ayat-Ayat Cinta 2: ‘Yakinkan Aku Fahri, Film Ini Masuk Akal’

Diposting pada

Tak sadar dengan titik lemahnya, Ayat-Ayat Cinta 2 malah bergantung begitu saja pada tokoh Fahri yang wagu itu untuk menyisipkan nilai-nilai keislaman. Sejumlah adegan menunjukan bagaimana Fahri melakukan kebaikan di antara penentangan dari karakter lain yang sesama islam. Ini menimbulkan tanya, umat islam sesuai realitas masa kini adalah Fahri atau justru malah mayoritas yang ditentang olehnya? Fahri di film ini tidak mewakili islam. Ia mewakili dirinya sendiri.

Padahal Ayat-Ayat Cinta 2 punya banyak adegan yang sebenarnya berpotensi diisi dengan dialog yang lebih dalam perihal seluk beluk ajaran islam. Sayangnya, selalu berakhir dangkal karena sudah terburu-buru diseret masuk ke kepentingan kisah drama asmaranya, seperti di adegan diskusi tentang posisi kaum perempuan dalam islam di kelas perkuliahan yang diampu Fahri .

Adegan tergagal lain–menjurus absurd–adalah adegan debat ilmiah bertajuk (semacam) “Konflik Timur Tengah Palestina dan Israel”. Persiapan Fahri untuk mengisi acara itu adalah begadang semalaman ditemani referensi literatur bertumpuk-tumpuk, tapi yang keluar dari mulutnya di mimbar hanya beberapa potong kalimat mutiara, yang intinya “mencintai lebih baik daripada membenci”. SERIUS? Mana ilmiahnya??? Debat bumi datar-bumi bulat jauh lebih ilmiah. Padahal sebagai dosen filologi yang keilmuannya adalah seputar kajian bahasa di sumber sejarah tertulis, Fahri seharusnya bisa melihat konflik-konflik itu dari segi historis atau apalah… Lha bapak saya tidak pernah sekolah jauh-jauh, tapi juga tahu kalau “mencintai lebih baik daripada membenci”.

Apa yang menimpa Aisyah membuat Ayat-Ayat Cinta 2 juga bermasalah dalam mengemukakan cara pandangnya terhadap perempuan

Awas kena Celup via id.bookmyshow.com

Seperti film pertamanya, Ayat-Ayat Cinta 2 tampak berhasrat menunjukan bahwa kaum perempuan dalam islam tak diposisikan terbengkalai seperti beberapa anggapan di luar sana. Lagi-lagi ini berakhir kontradiktif.

Coba kita lihat kisah Aisyah (Dewi Sandra) di film ini. Meski awalnya nekat menjaga kehormatan dengan mencacati sendiri vagina dan paras ayunya, namun ia akhirnya berulang kali mengatakan bahwa wanita tanpa itu semua tidak lagi ada harganya. Perspektif pemuliaan wanita tereduksi di titik itu. Memang secara psikologis, lumrah bagi wanita untuk hancur mentalnya dan berpikir demikian dalam kondisi demikian–ditambah punya suami berbakat poligami. Namun, ternyata itu bukan klaim dari tokoh Aisyah saja, melainkan juga klaim filmnya secara utuh. Film ini justru menyepakati pandangan patriarki dengan solusi yang menggegerkan dunia persilatan: transfer wajah.

“Fahri kembali punya istri cantik” adalah ending bahagia di film ini. Dan keputusan melakukan transfer wajah itu sangat instan dan cepat, tanpa ada proses pertimbangan-pertimbangan. Seolah-olah kesempurnaan fisik–tanpa perlu ada perdebatan–adalah kebutuhan primer bagi seorang perempuan untuk menjadi bahagia dan membahagiakan. Keadaan diperburuk ketika Guntur Soehardjanto selaku sutradara memvisualisasikan proses transfer wajah itu seolah ia sedang menyutradarai film Star Wars. 

Fahri memang baik hati terhadap semua orang, tapi langkah-langkah yang ia ambil terhadap Aisyah–yang tidak dicari ketika hilang dan tidak dikenali padahal tinggal serumah–patut dipertanyakan. Transisi dari fasenya kalut kehilangan hingga keputusannya untuk mengikhlaskan, lalu bersenang-senang dengan wanita lain tidak disampaikan dengan baik. Dalam kasus Fahri, ikhlas dan brengsek itu beda tipis.

Sudah sembrono begitu, ketika sadar, istrinya seketika menjadi cantik dengan wajah wanita lain….

Kok wuenak sekali hidupmu, Nak.

Belum kelar! Simak lanjutan review Ayat-Ayat Cinta 2 dengan klik Laman Selanjutnya!

Halaman Selanjutnya

Sumber: Hipwee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *