Hanya Ingin Lebih Nyaman Belajar, Curhatan Bocah SD Ini Justru Dipermasalahkan oleh Bupati Serang

Diposting pada

Lebih lanjut, menurut Tatu, pihak Pemda tak pernah membiarkan kegiatan belajar mengajar dilakukan di kandang kerbau. Dirinya sedikit tidak terima ada siswa yang bicara di depan khalayak soal sekolah yang tak lagi layak. Tatu juga menduga bahwa ada oknum tertentu yang ingin menjatuhkannya untuk kepentingan politik.

KPAI buka suara soal kasus ini. Pihaknya menilai keputusan Bupati Tatu memanggil Devi dan mencecarnya dengan rentetan pertanyaan itu tak bijak

Devi saat diinterogasi Bupati Tatu via news.detik.com

Keberanian Devi sudah sepatutnya diapresiasi. Zaman sekarang tak banyak murid yang mau menyuarakan apa yang mereka rasakan terkait kualitas pendidikan. Sikap Bupati Tatu ini dikecam banyak pihak, salah satunya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Mereka berkata bahwa Tatu sama saja membatasi hak partisipasi anak yang jelas tertuang dalam UU Pasal 56 Ayat (1) Poin a dan b yang berbunyi:

Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu Anak, agar Anak dapat:

a. berpartisipasi;

b. bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya

Kejadian di atas tak menutup kemungkinan akan mempengaruhi kondisi psikologis Devi, seperti dikatakan Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, sebagaimana dilaporkan oleh Tirto. Untuk kemungkinan ini KPAI akan terus memantau dan berkoordinasi dengan berbagai pihak serta berencana mengunjungi Devi dan keluarganya untuk memberi support. Padahal yang namanya pejabat publik seharusnya siap menerima kritik dan siap menjawab keluhan warganya. Reaksi seperti Bupati Tatu jelas sangat disayangkan dan mungkin sedikit banyak bisa jadi gambaran kenapa perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini selalu tersendat.

Sumber: Hipwee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *