Menikahlah karena Sudah Siap, Bukan karena Desakan Orang Sekitar

Diposting pada

Ada pula teman lain yang sudah merencanakan pernikahannya sejak jauh-jauh hari. Namun ketika mendekati hari H, pernikahannya dibatalkan. Padahal undangan sudah dicetak, katering sudah dipesan dan teman-temannya sudah menyiapkan jadwal cuti agar bisa datang. Setelah dikorek, akhirnya kami tahu bahwa pernikahannya batal karena mental keduanya masih belum siap untuk menjalin ikatan pernikahan. Ego masing-masing yang masih tinggi hingga keinginan pribadi yang belum 100 persen terpuaskan jadi alasannya.

Pengalaman ini ada di dekat saya dan saya menyaksikan langsung dampaknya. Kan serem kalau gini jadinya…

Saya pengen nikah, sumpah! via hipwee.com

Karena itulah saya menolak untuk terburu-buru (atau Bahasa kerennya “grusa-grusu”) dalam hal membicarakan pernikahan. Bukan berarti nggak pengen nikah, lho. Cuma nggak mau terburu-buru aja. Apalagi saya cowok. Di mata masyarakat kita, cowok adalah tulang punggung keluarga. Artinya, di samping saya harus siap secara mental, saya juga harus punya kesiapan finansial yang mumpuni dulu sebelum berani memutuskan untuk menikah.

Sejujurnya, saya masih takut membayangkan kalau keluarga kecil saya nanti hidup kesulitan.

Baik karena saya yang belum siap mental jadi kepala keluarga, ataupun karena sokongan finansial dari saya belum memadai untuk keperluan sehari-hari. Mengingat harga rumah di Jogja yang makin mahal, biaya sekolah yang tiap tahun naik dan harga kebutuhan harian yang juga nggak main-main membengkaknya. Jujur saja saya minder.

Memutuskan menikah itu nggak mudah! via 123rf.com

Iya sih dalam ajaran agama yang saya tahu, banyak pemuka agama yang menyarankan untuk menyegerakan menikah demi menghindari zina. Kalau ndak salah ini juga yang jadi alasan kuat kenapa banyak muda-mudi kita yang memutuskan segera nikah walau usia masih belia. Namun menurut hemat saya, menikah dengan alasan ini sungguh sangat kurang tepat. Kalau takut zina, ya simpel aja; Jangan dekat-dekat si dia lah. Kalau alasan menikah adalah biar nggak zina, berarti pada dasarnya yang dibayangkan (dan diinginkan) dari menikah cuma ena-ena. Padahal kan menikah itu isinya nggak cuma “hohohihe” (manut istilah dari Pojok Kampung JTV) doang!

Menikah itu selain menyatukan dua insan juga menyatukan dua keluarga. Artinya, pernikahan kalian itu akan meleburkan dua budaya. Budaya bawaan rumahmu dan budaya bawaan keluarga pasanganmu. Kalian wajib memahami ini dan mempersiapkan diri dulu agar pernikahan kalian berjalan dengan baik dan nyaman. Bukan semata-mata karena menghindari zina doang. Alasan demi menghindari zina bukan berarti salah lho ya. Cuma alangkah lebih baik lagi kalau alasan itu juga ditambah lagi dengan keyakinan dan kesiapan masing-masing pasangan. Baik secara finansial maupun mental.

Pada akhirnya yang mau nikah muda ya silahkan. Yang masih memilih untuk sendiri juga jangan dipaksa menikah segera

Daripada menikah cepat demi menghindari zina, saya kok lebih yakin dengan statement Tuhan yang sudah memberi kepastian bahwa “jodoh yang baik untuk orang yang baik pula”. Kalau begitu daripada fokus ngebet nikah cepet, bukankah lebih baik kita benahi diri sendiri dulu jadi sebaik-baiknya? Ya ini cuma opini saya lho, ya. Kalau kamu merasa udah siap untuk menikah ya kenapa tidak (selama ada yang mau lho, ya). Toh menikah itu urusan personal. Asal kamu nggak jadi sosok yang suka bergunjing, pamer pernikahan dan maksa orang buat nikah muda sih nggak masalah. Semua orang bebas dengan pilihan pernikahannya mau kapan.

Seperti di Skuat Hipwee, ada sosok yang hobinya pamer status pernikahannya seperti Mas Bayu. Ada juga yang tengah mempersiapkan pernikahannya seperti Mas Reza dan Mbak Monik. Yang memutuskan baru bersedia menikah setelah ada ultimatum terakhir pasangan seperti Soni pun ada. Bahkan, yang masih dalam masa pencarian pasangan seperti Andrall yang sudah mencari pasangannya sejak tahun 23 masehi pun ada. Manusia itu beraneka ragam. Saling menghargai adalah koentji!

Sumber: Hipwee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *