Menikahlah karena Sudah Siap, Bukan karena Desakan Orang Sekitar

Diposting pada

Menikahlah karena Sudah Siap, Bukan karena Desakan Orang Sekitar

http://hipwee.com

“Le, iki lho akeh undangan damel sampean”
“Undangan nopo, buk?”
“Yo undangan nikahan lah! Mosok kate undangan sunat! Ndi enek kancamu seng lagek sunat seumuranmu?! Eh, tapi ojo-ojo ancen sek enek seng durung sunat kancamu?”
“…………”

Artinya:

“Nak, ini lho banyak undangan buat kamu”
“Undangan apaan, buk?”
“Ya undangan nikahan temanmu lah! Masa iya undangan sunat. Mana ada temenmu yang baru sunat di usia sekarang?! Eh, apa emang masih ada?”
“…..…..”

Pagi itu saya ditelepon oleh Ibunda tercinta yang berada di kampung halaman. Kalau ndak salah, percakapan via telepon itu terjadi pada tanggal 28 Agustus silam. Pagi yang harusnya sejuk, mendadak terasa panas dan menyesakkan di dada. Semua gara-gara saya salah memilih teman. Mereka secara kurang ajar mengirim undangan ke rumah. Padahal ‘kan sudah pernah saya bilang agar jangan mengirim undangan nikahan, cukup kabarin via WhatsApp saja biar kehidupan saya tetap nyaman.

Beberapa minggu kemarin juga saya ditelepon oleh seorang sahabat dekat yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Dalam percakapan telepon yang berlangsung selama lebih dari 30 menit itu banyak sekali celotehan tentang nikahan yang meluncur ke telinga. Mulai dari si A sudah nikah dengan duda beranak dua, si B yang lagi planning nikahan bulan depan, sampai ungkapan kekhawatiran teman saya ini tentang orientasi seksual saya (Dia mengira saya punya ikatan asmara dengan laptop saya. Gila!). Maklum, sepengetahuan dia, saya belum pernah pacaran atau dekat dengan perempuan. Padahal mah aslinya… Heuheu :p

Advertisement

Nah ketika saya pulang kampung beberapa hari yang lalu, hal mengesalkan juga terjadi. Topiknya sama; soal nikahan. Tetangga rumah (kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah) mulai bergunjing ketika melihat saya pulang. Bahkan tanpa malu mereka langsung bertanya, “Mas Oji pulang mau nyiapin lamaran, ya?” (“NDASMU!” Batin saya) Kan asyem!

Saya bukan @gmthiar yang orientasi seksualnya tertuju kepada tiang berbatu via hipwee.com

Segitu urgent-kah bagi anak seusia saya untuk membicarakan tentang pernikahan? Saya masih meniti karier lho. Mbok jangan dibombardir oleh pertanyaan seputar nikahan, sih…

Hal mengesalkan itu disponsori oleh budaya bangsa kita yang memang bangga ketika ada yang menikah muda. Mengingat ayah dan ibu kita dulu menikah di usia muda, dan bahkan Mbah serta Buyut kita menikah di usia yang terbilang masih sangat belia (baru juga belasan tahun udah nikah), jadi sangat wajar jika perkara nikahan ini selalu jadi topik gunjingan.

Tren masa kini yang bertebaran di masyarakat juga turut menyuburkan skema topik-topik seputar pernikahan. Buku-buku karangan penulis ternama banyak yang membahas tentang imaji romantika percintaan kawula muda. Di akhir cerita, menikah ditunjukkan sebagai momen paling indah bagi kedua tokoh utama. Dengan penggambaran pernikahan sebagai momen paling indah dalam kehidupan umat manusia, jelas saja banyak anak muda yang tertarik untuk mencicipinya. Ya kita nggak bisa nyalahin penulis atau penerbit buku sih soal ini. Lha wong cerita-cerita romantis gini kok yang laris. Mau gimana lagi cobak, ya. *Membela rekan seprofesi. 

Seakan nggak mau tahu penderitaan orang-orang yang masih enggan memikirkan pernikahan seperti saya, media dan portal-portal berita banyak yang berani-beraninya menyiarkan kabar pernikahan sosok putra Ustaz Arifin Ilham yang bernama Muhammad Alvin Faiz. Framing-nya itu lho yang bikin hidup saya makin nggak tenang. “Saat Putra Sulung Arifin Ilham Menikah di Usia Belia Karena ‘Mampu’” Judul berita macam apa itu?! Dari situ seakan-akan menuduh saya yang masih enggan memikirkan pernikahan ini belum ‘mampu’. Padahal ‘kan… emang belum mampu. Waduh! *Kemudian baper… :’(

Nikah? Lha wong dompet aja masih buluk kayak gini… :'( via hipwee.com

Namun, perlu digarisbawahi lho, ya. “Mampu” ini bukan cuma dari segi finansial saja. Iya sih, secara finansial gaji saya selaku editor dan penulis ini ya masih pas-pasan. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya mohon mbok Mbak Monik dan Mbak Indah naikin dong gaji saya. Heuheu *Kemudian dipecat

Nggak, nggak, itu cuma bercanda kok (tapi kalau dianggap serius sama Mbak Monik dan Mbak Indah juga gapapa sih. Heuheu). Bagi saya, lebih dari sekadar finansial, mampu dari sisi psikologis jauh lebih penting daripada dari segi finansial.

Saya pernah menjadi saksi hidup betapa pentingnya kesiapan psikologis lebih utama daripada kesiapan finansial. Ada seorang teman yang memutuskan bercerai setelah dua tahun pernikahan. Padahal sang suami punya status pegawai negeri dengan golongan dan gaji yang lumayan tinggi. Sang istri juga punya pekerjaan sebagai guru sekolah dasar yang penghasilannya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Jadi alasan utama perceraian mereka jelas bukan uang, tapi mental mereka masih belum siap jadi seorang suami, istri, apalagi orangtua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *