Kisah Wanita Melankolis yang Terkena Vonis Santet dan Bagaimana Ia Melaluinya #HipweeJurnal

Diposting pada

Sebelum penjelasan melebar kemana-mana, saya ingin meluruskan tulisan ini lagi. Jadi saya punya beberapa teman yang indigo dan bisa dibilang punya pengalaman dengan yang berbau santet. Setidaknya mereka beberapa kali menyembuhkan orang yang sakitnya tak jelas juntrungannya seperti saya. Meski buat saya mereka tetap orang yang beradab, karena saya tak hanya diminta berobat secara spiritual, tapi juga harus tetap konsultasi ke dokter spesialis.

Mengingat semenjak saya sakit hal-hal aneh terus bermunculan, mulai dari datangnya beberapa lintah setiap subuh di dalam rumah, sampai orangtua saya melihat makhluk-mahkluk tak kasat mata. Sementara saya dan teman saya yang indigo sendiri mengalami mimpi yang menyeramkan. Yang mungkin kalau dijelaskan orang bisa saja berkomentar, “ah, mimpikan sekadar bunga tidur!” Lalu akhirnya setelah coba diterawang oleh mereka, saya pun resmi divonis terkena teluh.

Takut di awal-awal sudah jelas, tapi melihat ibu saya yang menangis tiap malam, entah kenapa rasa itu berganti dengan keberanian. Seperti yang dijelaskan di paragraf awal subpoin ini, saya justru tak takut atau ingin menyerah begitu saja. Sekalipun setiap hari saya ikut menangisi kondisi saya yang kalau Ashar tiba cuma bisa rebahan dan megap-megap.

Sampai pada akhirnya keberanian saya pun berbuah baik. Saya memutuskan pergi ke Malang, bersilahturahmi dengan teman-teman saya yang indigo tadi. Dibimbing untuk lebih sadar diri, barangkali ada khilaf yang saya atau keluarga saya tak sadari. Dibantu juga dengan pengobatan spiritual yang gambarannya kurang lebih mirip di film Doctor Stranger. Teman-teman saya yang indigo ini menjelajah ke alam lain, mencari sumber penyakit saya datang, dan menghilangkannya. Terakhir saya pun diingatkan untuk memupuk keimanan saya lagi, salah satunya soal sedekah.

Seperti mejik memang, karena dalam waktu seminggu, saya sendiri sudah cukup sehat. Bisa kembali bekerja, tak lagi merasa sesak napas setiap Ashar tiba. Dan pastinya itu membuat saya meyakini, kalau sakit saya yang kemarin itu ujian sekaligus peringatan. Ujian untuk orang melankolis dan cengeng seperti saya supaya tak jadi penakut. Peringatan untuk saya yang selama bertahun-tahun lalai dan lupa bersyukur ataupun ingat kepada Sang Pemilik Semesta.

HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Sumber: Hipwee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *